Selasa, 09 Juni 2020
BAGAIMANA
KUGUGAT RINDU?
Natalino
Nepa Rassi
Bagaimana kugugat rindu?
Ia berbiak bertubi-tubi
Merobek dikala sunyi
Melebur disaratnya penat
Bagaimana kugugat rindu?
Menyerang tanpa kompromi
Mengusur di tengah keramaian
Menyisir di relung hati
Bagaimana kugugat rindu?
Ia menapaki tangga-tangga
Mengurai hitam putih
Memahat kisah
Lantas bagaimana kusiasati laju?
Kau terlanjur bersemayam
Mendaging di nadiku.
Sang Guru
Antologi Puisi Guru Se-Bali
Persimpangan Jalan
Natalino Nepa Rassi
Di persimpangan jalan
Langkahku
terhenti mencari tuntun
Tersesat
kelak-kelok yang beruntun
Semua seakan
linglung
Di persimpangan
jalan
Lika-liku selalu
mengoda
Lantas kuterabas
membabat laju
Mengikis
serpihan warna yang pernah ada
Helaan nafasku
memburu
Di persimpangan
jalan
Seruanku bergema
Lutut tertanam
dengan sembab mata
Aku mengaduh
Suara dengarkanlah
Bersua Tamatkan Rindu
Natalino
Nepa Rassi
Di sini kau kembali menjajah
Menjungkalkan ego yang membatu
Pesan rindumu menyelinap memborbardir
Di penghujung tahun yang hampir tiba
Di sini kau kembali menjajah
Wajahmu meruang di anganku
Liar menyusup kisi-kisi sunyi
Menerka-nerka harap
Lalu mati dilumat peradaban sunyi
Di sini kau kembali menjajahku
Mengasah keberjejalan kisah itu
Aku tak mampu meninju ego
Perkemahan kembali terkoyahkan
Aku ingin pulang
Bersua menamatkan rindu
Canduku
Karya Natalino Nepa Rassi
Sepotong Perjalanan tak bertapak
pekik - pekik kecil pengias jejak
terlena ku memandang bianglala
kau ukir penuh warna
ragaku terbuai dalam alunan nada
Hujan menari bersama angan
jeritan jeritan menyayat kalbu
bias bias air penyapu duka
dahaga rindu mengigil memangil
taburan madu menghiasi
senja membayang diantara bayangmu
canduku berkesumat
tanpamu aku hampa
riuhku penyulam duka
sampai kapan?
mungkinkah mentari kan berhenti bersinar?
Karya Natalino Nepa Rassi
Sepotong Perjalanan tak bertapak
pekik - pekik kecil pengias jejak
terlena ku memandang bianglala
kau ukir penuh warna
ragaku terbuai dalam alunan nada
Hujan menari bersama angan
jeritan jeritan menyayat kalbu
bias bias air penyapu duka
dahaga rindu mengigil memangil
taburan madu menghiasi
senja membayang diantara bayangmu
canduku berkesumat
tanpamu aku hampa
riuhku penyulam duka
sampai kapan?
mungkinkah mentari kan berhenti bersinar?
Minggu, 24 September 2017
Sajak Harap
By Natalino
Kemarin kuukir egoku di batu cadas
Menyeduh kopi disaat langit menangis
dan mengalirkan liuk genangan air membentuk bendungan
sumpah serapahkan menanggalkan semua
Lunglai termakan tanah sebelum
melewati sudut-sudut
Sisa-sisa debu beranjak digiring air
Helaan nafasku seakan tertimbun
lumpur
Sepotong bayang bersijingkat
memperkosa angan
ingin kulantangkan suara, namun pijak
dahaga memelas
sekawanan kata rindu lalu-lalang
melintas
denyar nadi meruat tak karuan
ingin kusumbat laju malam
Hingga pagi tak menyapa
Tapi denting waktu tak bermain
kompromi
Kurajut kembali sisa-sisa harap
Yang tersangkut pekatnya malam
Aku ingin menyunting bulan
Menyusup relung pusaran hati
Hingga bisa menyongsong pagi
Menyulam kembali sobekan hati
Menabur kasih sepanjang waktu
Minggu, 04 Desember 2016
Syair Pengelana
Natalino
Angin
menyusup sendi-sendi peraba
Terpaannya
mengulik rasa yang kian mendaging
Denting
piano, untaian nada besimbah tautan emosi
Mengiring
jalan pengelana
Mata
berpacu dengan waktu menikmati balutan endek pada liukan tubuh penari
Menghipnotis
separuh rasa
Perlahan
memborbardir jatung pertahananku
Ingin
kubunuh rasa dengan seteguk tuak, tapi aku tak terbiasa
Ingin
Kuulang duduk bersisian di samping warung
Serombotan
sebagai menu makan soreku
Ketika
matamu berpendar menghipnotis sukmaku
Dan
serombotan memalingkan rasa untuk kembali bersua
Ingin
kuintai setiap denyut nadimu
Bersamaan
dengan malam yang kian lalu-lalang
Dalam
seruan baris-baris doaku
Kusebut
namamu
Rasaku
memburu
Kemana ku
bermuara?
Rasa ini
kian melilit rongga dada
Sesak
nafas mendesah, ah….. hanya mimpi
Kemana
kubuang bayang yang tak mau menyusut?
Ketika
senja membayang di pantai Kusamba
Anak
nelayan menyerukan untaian lagu rindu
Aku mulai
mengigil memanggil namamu
kuukir
wajah yang kian mengrogoti pada pasir ini
Namun
balutan angin dan terpaan ombak menghapusnya
Kuredam
kembali asah
Kita
berbeda, aku tandus dan kering kamu seni dan budaya
Mungkinkah
kita bisa menyatu?
Sahabat, Bebas !
Natalino
Berjejal aroma tuak yang di terbangkan angin
Membuka lorong-lorong kesunyian
Mulut yang terbungkam sekejap meletup-letup
Membentuk lingkaran dengan bekas segelas aqua sebagai antrian
Kemah barisan pujanga? Bukan! Ini lintasan bibir-bibir penikmat tuak
Silang menyilang buain pengobral mulai diobral
Menyulam jaring-jaring membentuk proyeksi
Membuka lorong-lorong kesunyian
Mulut yang terbungkam sekejap meletup-letup
Membentuk lingkaran dengan bekas segelas aqua sebagai antrian
Kemah barisan pujanga? Bukan! Ini lintasan bibir-bibir penikmat tuak
Silang menyilang buain pengobral mulai diobral
Menyulam jaring-jaring membentuk proyeksi
Aku
bersekutu dengan obralan para pengobral
Kami adalah satu meski ini hanya pelampiasan temu kami
Rokok, arak adalah simbolik kami pekikkan “bebas”
Asap berjerjal membentuk awan kemudian lenyap termakan angin
Tidak ada pengerutu. Senyum terbentuk di sudut-sudut kesunyian malam
Jarum jam lalu lalang tanpa kompromi merangsak maju
Mengikuti adrenalin yang kian memuncak untuk mengalahkan malam
Kupahat kisah malam ini dengan sebaris harap
Biarkan kami tetap bersekutu
Merajut reka-reka yang telah kami degungkan malam ini
Hingga fajar menjemput dan kami kembali menabur
Dan hujan kembali menyalami
Kamipun menikmati tuain-tuain kebajikan.
Kami adalah satu meski ini hanya pelampiasan temu kami
Rokok, arak adalah simbolik kami pekikkan “bebas”
Asap berjerjal membentuk awan kemudian lenyap termakan angin
Tidak ada pengerutu. Senyum terbentuk di sudut-sudut kesunyian malam
Jarum jam lalu lalang tanpa kompromi merangsak maju
Mengikuti adrenalin yang kian memuncak untuk mengalahkan malam
Kupahat kisah malam ini dengan sebaris harap
Biarkan kami tetap bersekutu
Merajut reka-reka yang telah kami degungkan malam ini
Hingga fajar menjemput dan kami kembali menabur
Dan hujan kembali menyalami
Kamipun menikmati tuain-tuain kebajikan.

