Penghujung Tahun
Neparasi Natalino
Aku berlayar setahun lamanya
Mengintari samudera
Diombang-abingkanya kapalku
Terkoyak layarku tak kuasa menahan hantaman angin
Dipukulnya kemudiku hinga kehilangan arah
Terdampar ku di pesisir
Berlabuh saat sang surya menutup mata
Terbebas aku dari cengkraman badai
Dari amukan angin delapan penjuru
Kusulut api penghangat dada
Berkobar getir hati memahat pelangi
Yang mulai luntur termakan waktu
Dulu setangkai berbuah tiga delima
Sekarang kutukan menerjang
Disihirnya akar delima menjadikan tangkai kering
Terlepas bagai bola tak beriringan
Dilembah ini ku bangun pondok
Menganga pintu memanggil deru ombak
Asinya air laut penyedap rasa
Bergulat pada hausnya merangkai mimpi
Aku ingin besok segera terbangun
Memahat mimpi yang pernah kutulis
Kamis, 31 Desember 2015
Selasa, 29 Desember 2015
Dia Datang
Dia Datang
By Natalino Neparasi
Seringkali aku lupakan pengorbanan yang Dia berikan
Kuterlena dalam bayang-bayang belukar yang mengelilingi
semerah kismis kutoreh pada jejak-jejak perjalanan
Kesuir angin dan hantaman derai hujan tak mampu pudarkan
Dibaringkannya aku pada pohon ketapang yang rindang
Kutemukan seraut bayang ketika dedaunan mulai berguguran
Muara waktu berdenting tanda waktu tlah tiba
Baliklah jika Merah flamboyang mulai menghias jalananan
Tercabik-cabik perih menjalar disetiap helaan nafas.
Ini tahun keberapa?
Ini janji keberapa?
Biarlah aku menjelma menjadi angin
Kusebarkan, kuhampiri, kuisi, setiap dinding-dinding kosong
Yang mengharapkan kedatanganku.
Ah Dia datang! Kiri-kanan semuanya bernuansa mewah
Glorya, Wangi-wangian kue mencumbu
Kutakarkan semua rasa menjadi padu
Menyongsong Sang Juruslamat
Robohkanlah gubuk kekwatiran dan kegelisan
Gantikan dengan menara kemenangan dan kedamaian.
By Natalino Neparasi
Seringkali aku lupakan pengorbanan yang Dia berikan
Kuterlena dalam bayang-bayang belukar yang mengelilingi
semerah kismis kutoreh pada jejak-jejak perjalanan
Kesuir angin dan hantaman derai hujan tak mampu pudarkan
Dibaringkannya aku pada pohon ketapang yang rindang
Kutemukan seraut bayang ketika dedaunan mulai berguguran
Muara waktu berdenting tanda waktu tlah tiba
Baliklah jika Merah flamboyang mulai menghias jalananan
Tercabik-cabik perih menjalar disetiap helaan nafas.
Ini tahun keberapa?
Ini janji keberapa?
Biarlah aku menjelma menjadi angin
Kusebarkan, kuhampiri, kuisi, setiap dinding-dinding kosong
Yang mengharapkan kedatanganku.
Ah Dia datang! Kiri-kanan semuanya bernuansa mewah
Glorya, Wangi-wangian kue mencumbu
Kutakarkan semua rasa menjadi padu
Menyongsong Sang Juruslamat
Robohkanlah gubuk kekwatiran dan kegelisan
Gantikan dengan menara kemenangan dan kedamaian.
Kamis, 03 Desember 2015
Puisi Desember
Desember Hitam Putih
By Natalino
Ketika Desember menyapa
memori seakan terus mengintai pergerakan
Ku coba menghalau tapi ditancapnya begitu mendalam
Aku terkapar setengah mati mengiba
Belum juga hujan datang menyalami
Tapi sembab mata dipembaringan selalu menemani
Aku pecundang, tak mampu meninju langit.
Padahal kemarin sayap sudah kurangkai
By Natalino
Ketika Desember menyapa
memori seakan terus mengintai pergerakan
Ku coba menghalau tapi ditancapnya begitu mendalam
Aku terkapar setengah mati mengiba
Belum juga hujan datang menyalami
Tapi sembab mata dipembaringan selalu menemani
Aku pecundang, tak mampu meninju langit.
Padahal kemarin sayap sudah kurangkai
Di jalan-jalan gelap telah kuserukan janji janji
Kepada para bedeba yang setiap saat ingin menebas aku
Aku tergelincir ketika hujan desember datang mengusik
Bentengku terporak poranda ketika angin barat mulai mengamuk
Peperangan kecil melumpukan ego dan membuatku terkapar
Sendiri menyelami setiap tindak tanduk jejak perantau
Dekapan, hangat, sentuhan, seakan terus mengintai dinding ingatanku
Bungga flamboyan mengepung kelana imajiku
Hitam putih mengusik logikaku
Ku coba bentengi diri dengan kemah ego yang kuat.
Persedian makanan di kemah begitu lengkap
Tapi Aku tetap saja seperti singa kelaparan siap menyergap
Aku bersikukuh pada bulan untuk meminjam cahaya
Nantikalah aku, Teguhkanlah aku. kuatkanlah aku
Pada janji janji yang pernah terucap
Aku berseru pada Tuhan
Terseret dalam ruang dan waktu
Aku ingin pulang.
Kepada para bedeba yang setiap saat ingin menebas aku
Aku tergelincir ketika hujan desember datang mengusik
Bentengku terporak poranda ketika angin barat mulai mengamuk
Peperangan kecil melumpukan ego dan membuatku terkapar
Sendiri menyelami setiap tindak tanduk jejak perantau
Dekapan, hangat, sentuhan, seakan terus mengintai dinding ingatanku
Bungga flamboyan mengepung kelana imajiku
Hitam putih mengusik logikaku
Ku coba bentengi diri dengan kemah ego yang kuat.
Persedian makanan di kemah begitu lengkap
Tapi Aku tetap saja seperti singa kelaparan siap menyergap
Aku bersikukuh pada bulan untuk meminjam cahaya
Nantikalah aku, Teguhkanlah aku. kuatkanlah aku
Pada janji janji yang pernah terucap
Aku berseru pada Tuhan
Terseret dalam ruang dan waktu
Aku ingin pulang.
Minggu, 16 Agustus 2015
KERINDUAN TERTUNDA
KERINDUAN
TERTUNDA
By
Natalino Neparasi
Karang dan tandus mulai memangil
Wangi Cendana mulai terurai bersama angin
Buih tuak menawan memalingkan nostalgia
Keresahan mengendap terbenam bersama
mentari
Guratan itu terlukis jelas dalam ingatanku
Lima
tahun tanjung teluk itu masih sama
Puing-puing pondasi mulai berbentuk rumah
Aku
bersikukuh pada sejuntai bayang
Taburan benih kebencian kian merasuk
Ku berlabuh dan terdampar pada air tenang
Penaku bergerak mecipta syair
Kutulis rasa yang tengelam terlalu dalam
Ingin kukuras, semakin ku kuras semakin
terisi
Kucoba menjamah bayang namun tak terasa
Jeritan ku meledak ketika fajar menyingsing
Kamis, 16 Juli 2015
Kerinduan
Kerinduan
By Lino Neparasi
Tanjung teluk pembatas mata memandang
Doa, mimpi dan telpon adalah penghubung
Dimana tepi rindu akan berlabuh
Hadirmu mengisih kosongnya jalah
Yang kutebarkan di kala mentari berubah merah
Tanpa batas ribuan sajak tercipta
Sentuan alam hinggapi jejak luka
Menorehkan tanda ritme kehidupan
Aku bernostalgia dengan terpaan angin
yang selalu mengisyaratkan hadirmu
Ku isi bejana rindu ini dengan doa
getir hatiku berbalut tawa ria
berharap fajar satukan embun dan daun
Bersua, Hangat pelukmu kunantikan
Sejuta Cerita telah kususun rapih.
By Lino Neparasi
Tanjung teluk pembatas mata memandang
Doa, mimpi dan telpon adalah penghubung
Dimana tepi rindu akan berlabuh
Hadirmu mengisih kosongnya jalah
Yang kutebarkan di kala mentari berubah merah
Tanpa batas ribuan sajak tercipta
Sentuan alam hinggapi jejak luka
Menorehkan tanda ritme kehidupan
Aku bernostalgia dengan terpaan angin
yang selalu mengisyaratkan hadirmu
Ku isi bejana rindu ini dengan doa
getir hatiku berbalut tawa ria
berharap fajar satukan embun dan daun
Bersua, Hangat pelukmu kunantikan
Sejuta Cerita telah kususun rapih.
Selasa, 07 Juli 2015
Diamku
Diamku
By Natalino Neparasi
Ku layangkan mata ke gunung
Kabut hitam bermesra tertiup angin
kilat menyambar dedaunan panjang
gemuruh guntur tak terbendung
menjaring rintik – rintik hujan
luapan - luapan panas terselami
By Natalino Neparasi
Ku layangkan mata ke gunung
Kabut hitam bermesra tertiup angin
kilat menyambar dedaunan panjang
gemuruh guntur tak terbendung
menjaring rintik – rintik hujan
luapan - luapan panas terselami
Dalam riuhku tersimpan duka
rajutan bayangmu memborbardir logika
kucondongkan hati menaruh harap pada rembulan
keheningan torehkan luka kepedihan
meleburkan rasa mendaging bersama angan
seciut sukma berbisik lirih
percuma…
Senyuman tak mampu bungkam tatapan mata
letupan – letupan kecil penghias hening
lautan kepedihan nurani meledak
lahar – lahar rasa menjalar
mengintari dinding-dinding ilusi
lidah mengerutu pasrah.
rajutan bayangmu memborbardir logika
kucondongkan hati menaruh harap pada rembulan
keheningan torehkan luka kepedihan
meleburkan rasa mendaging bersama angan
seciut sukma berbisik lirih
percuma…
Senyuman tak mampu bungkam tatapan mata
letupan – letupan kecil penghias hening
lautan kepedihan nurani meledak
lahar – lahar rasa menjalar
mengintari dinding-dinding ilusi
lidah mengerutu pasrah.
Jumat, 03 Juli 2015
Harap dibatas Senja
Harap dibatas Senja
Oleh : Natalino Neparasi
Redup tak terselami seberkas cahaya
pangkuan pijakan enggan memelas asa
perlahan kemilau tersapu dari mata
hanya air yang tersisa di ujung harap
impian menetes lembut dari mata
mencari naungan dari aungan srigala
Bayang – bayang di batas senja
kabut hitam menari membungkus mentari
bisikan harap pada angin malam
pinjamkan seberkas cahaya pada rembulan
bintang ukir sejuta kenangan
mata menanam benih – benih harapan
Ku songsong terang dengan balutan angin
tebarkan sejuta riah ke seluruh penjuru
lintasi terjal di persimpangan lembah
meraih angan ditengah pengungsian
membidik langit membunuh sangsi
meskipun kadang tersesat diantara dua jalan
Oleh : Natalino Neparasi
Redup tak terselami seberkas cahaya
pangkuan pijakan enggan memelas asa
perlahan kemilau tersapu dari mata
hanya air yang tersisa di ujung harap
impian menetes lembut dari mata
mencari naungan dari aungan srigala
Bayang – bayang di batas senja
kabut hitam menari membungkus mentari
bisikan harap pada angin malam
pinjamkan seberkas cahaya pada rembulan
bintang ukir sejuta kenangan
mata menanam benih – benih harapan
Ku songsong terang dengan balutan angin
tebarkan sejuta riah ke seluruh penjuru
lintasi terjal di persimpangan lembah
meraih angan ditengah pengungsian
membidik langit membunuh sangsi
meskipun kadang tersesat diantara dua jalan
Rabu, 13 Mei 2015
Jumat, 08 Mei 2015
Melody Cinta
Melodi Cinta
By Baltim Kompilasi (Bali Timor) (Lino & Friend's)
Kumainkan ritme seribu nada cinta
bayang - bayang ilusi mengrogoti jiwa
perlahan memborbardir separuh logika
dalam riuhku terpendam sejuta duka
berkesumat seribu rindu rindu ingin bersua
Dalam tawa kau terbawa
gelombang cinta yang sempurna
tak lagi aku merana
menanti asa didepan mata
murni bagai emas permata
Kalau cinta mampu berbicara
mampu kau pahami butirnya
kemilau cahaya membawa cinta
sejuta mimpi terurai nyata
dalam satu goresan nada cinta
By Baltim Kompilasi (Bali Timor) (Lino & Friend's)
Kumainkan ritme seribu nada cinta
bayang - bayang ilusi mengrogoti jiwa
perlahan memborbardir separuh logika
dalam riuhku terpendam sejuta duka
berkesumat seribu rindu rindu ingin bersua
Dalam tawa kau terbawa
gelombang cinta yang sempurna
tak lagi aku merana
menanti asa didepan mata
murni bagai emas permata
Kalau cinta mampu berbicara
mampu kau pahami butirnya
kemilau cahaya membawa cinta
sejuta mimpi terurai nyata
dalam satu goresan nada cinta
Minggu, 26 April 2015
Salah Bicara Akibatnya Fatal
Hari yang menyenangkan ketika dering telpons Saya berbunyi. Cepat - cepat saya sambar hp digengaman teman yang dari tadi bermain Get rich. No baru? siapa gerangan dengan gaya anak alay tangan mengeser layar answer " Halo" kata saya dengan nada yang datar. Tak ada jawaban "Halo" Halo!!!!! . "ia Halo papa ada buat apa?" Omg suara itu . Cepat - cepat saya turunkan nada bicara "bagaimana kabar?" saya mulai pembicaraan. "Sonde usah pura - pura lupa. Bapa marah B ya?" tanyanya dengan suara khasnya. saya terdiam "Bukannya begitu B. Lino sebenarnya sangat merindu tapi lino lagi sibuk ahir ahir ini. "Oh mungkin sekarang B sonde begitu penting lai andia lino su lupa" katanya. What? "Ah maksud lino. Lino pikir B sibuk jadi lino takut ganggu " cepat - cepat aku memperbaiki jawaban pertama takutnya tersingung. "Ya sudahlah kalau lino sibuk B sudah menggangu lain waktu nanti bai telpon lagi." "Sonde - sonde lino sonde sibuk" belum selesai saya mengucapkan kata itu terdengar bunyi tut... tutt. tuttt. saya mencoba menghubunggi lagi tapi telponya tidak diangkat- angkat juga.
Janji dan waktu
Janji dan waktu
Kulayangkan mata menyisir pandang
membelai harap diujung penantian
balutan kasih mulai usang
menelusuri jeruji jeruji perjanjian
By Lino Neparasi
Kulayangkan mata menyisir pandang
membelai harap diujung penantian
balutan kasih mulai usang
menelusuri jeruji jeruji perjanjian
By Lino Neparasi
Selasa, 21 April 2015
Bingung
Bingung
Tanpa Rindu
Tanpa benci
sisahkan Puing puing kenangan
mungkin sakit
Mungkin Bahagia
entahlah
senyum ini masih terbungkus duka
tersesat separuh raga
memangil kicauan burung camar
By Lino Neparasi
Tanpa Rindu
Tanpa benci
sisahkan Puing puing kenangan
mungkin sakit
Mungkin Bahagia
entahlah
senyum ini masih terbungkus duka
tersesat separuh raga
memangil kicauan burung camar
By Lino Neparasi
Sabtu, 18 April 2015
Dilema
Dilema
Kujejaki Pulau surga
dengan sejuta harapan
gelora dunia bertaburan
kunikmati nafsu dalam gemerlap kota
ini, itu kuraih.
semakin erat kudekap
tapi senyum itu justru menjauh
elok mempesona menari diatas bayang2 semu
ya ini jalanku,
semua membisu
semua hampa,entah mengapa
kering, tandus itu justru kurindu
pingin kudekap, tapi situasi bermain cemburu
memborbardir seciut sukma
perlahan mematahkan sum sum ingatan
By Lino Neparasi
Kujejaki Pulau surga
dengan sejuta harapan
gelora dunia bertaburan
kunikmati nafsu dalam gemerlap kota
ini, itu kuraih.
semakin erat kudekap
tapi senyum itu justru menjauh
elok mempesona menari diatas bayang2 semu
ya ini jalanku,
semua membisu
semua hampa,entah mengapa
kering, tandus itu justru kurindu
pingin kudekap, tapi situasi bermain cemburu
memborbardir seciut sukma
perlahan mematahkan sum sum ingatan
By Lino Neparasi
Menjelang Pagi
Menjelang Pagi
Penghujung malam penuh nestapa
memory berjingkat dalam alunan nada
mengais dingin kian menggigit
menutup separuh cahaya
mengintari dinding lamunan
kisah ini
Ibarat permata di mulut babi
indah tiada berarti
seakan tak bermakna dilewati
Bulan Tunjukan arti
jangan biarkan prasangka kian membunuh
ukirkan sejuta bintang timur
mengetuk cinta yang kian pudar
kembali dalam nyata tanpa goresan
By Lino Neparasi
memory berjingkat dalam alunan nada
mengais dingin kian menggigit
menutup separuh cahaya
mengintari dinding lamunan
kisah ini
Ibarat permata di mulut babi
indah tiada berarti
seakan tak bermakna dilewati
Bulan Tunjukan arti
jangan biarkan prasangka kian membunuh
ukirkan sejuta bintang timur
mengetuk cinta yang kian pudar
kembali dalam nyata tanpa goresan
By Lino Neparasi
Jumat, 17 April 2015
Puisi " Aku Dan Kerinduan "
By Lino Neparasi
Tanjung di ujung mata
gelisah mengusik ego
raga berserah tapi tak pasrah
karang mulai terkikis pukulan ombak
untaian kata tak dapat terangkai indah
goresan tinta tak mampu lukiskan semua
ada apa Gerangan?
Puisi " Bimbang "
By Lino Neparasi
Sayup - sayup kasih masih terasa
Ku hirup rasa tanpa mendua
jejak kecil perlahan tersapu
membunuh imajinasi masa lalu
setengah sadar kupahat harap
hadirkan janji yang telah berlalu
Rasa itu penyakit mematikan
Sayup - sayup kasih masih terasa
Ku hirup rasa tanpa mendua
jejak kecil perlahan tersapu
membunuh imajinasi masa lalu
setengah sadar kupahat harap
hadirkan janji yang telah berlalu
Rasa itu penyakit mematikan
Puisi "Damai"
Damai
Merah, Hijauh, Hitam Menjamur menjadi satu
mata- mata memandang mulut- mulut mengerutu
antara benci, jijik dan muak menyatu
virus - virusmu perlahan -lahan mematikanku
Merah, Hijauh, Hitam Menjamur menjadi satu
mata- mata memandang mulut- mulut mengerutu
antara benci, jijik dan muak menyatu
virus - virusmu perlahan -lahan mematikanku
Rabu, 15 April 2015
Sahabat
Sahabat
By Lino Neparas
Termenungku meratapi perjalanan ini
rentangan sang waktu sebagai penguji
seperti menajamkan baja dalam bara api
kau tulis seribu syair ceria
meskipun terkadang pekat menghantui
Sahabat Perselisihan itu biasa
ucap bibir terkadang mengores luka
namun materai maaf selalu ada
bersama kita mengukir janji
By Lino Neparas
Termenungku meratapi perjalanan ini
rentangan sang waktu sebagai penguji
seperti menajamkan baja dalam bara api
kau tulis seribu syair ceria
meskipun terkadang pekat menghantui
Sahabat Perselisihan itu biasa
ucap bibir terkadang mengores luka
namun materai maaf selalu ada
bersama kita mengukir janji
Selasa, 14 April 2015
Canduku
Canduku
By Lino Neparasi
Sepotong Perjalanan tak bertapak
pekik - pekik kecil pengias jejak
terlena ku memandang bianglala
kau ukir penuh warna
ragaku terbuai dalam alunan nada
Hujan menari bersama angan
jeritan jeritan menyayat kalbu
bias bias air penyapu duka
dahaga rindu mengigil memangil
taburan madu menghiasi
senja membayang diantara bayangmu
canduku berkesumat
tanpamu aku hampa
riuhku penyulam duka
sampai kapan?
mungkinkah mentari kan berhenti bersinar?
By Lino Neparasi
Sepotong Perjalanan tak bertapak
pekik - pekik kecil pengias jejak
terlena ku memandang bianglala
kau ukir penuh warna
ragaku terbuai dalam alunan nada
Hujan menari bersama angan
jeritan jeritan menyayat kalbu
bias bias air penyapu duka
dahaga rindu mengigil memangil
taburan madu menghiasi
senja membayang diantara bayangmu
canduku berkesumat
tanpamu aku hampa
riuhku penyulam duka
sampai kapan?
mungkinkah mentari kan berhenti bersinar?
Senin, 13 April 2015
Rintihan Hati
Rintihan Hati
By Lino Neparasi
Mentari pudar tertelan malam
Jiwa mereka - reka
melukis bayang yang mulai terkikis
membelenggu sebaris keyakinan
remuk menjadi debu tak berarti
tertiup bersama mimpi
By Lino Neparasi
Mentari pudar tertelan malam
Jiwa mereka - reka
melukis bayang yang mulai terkikis
membelenggu sebaris keyakinan
remuk menjadi debu tak berarti
tertiup bersama mimpi
Mentari pudar tertelan malam
rintihan kecil terdengar
wajah lesuh penuh luka
sekejab mata sembab di pembaringan
peluh dan kesah tak berujung
lidah merayu mencari kelegaan
Fajar Menyingsing
onak dan duri masih mengintari
bantal usang saksi bisu
memelas jiwa tancapkan semangat
menerkah esok yang tak kunjung tiba
rintihan kecil terdengar
wajah lesuh penuh luka
sekejab mata sembab di pembaringan
peluh dan kesah tak berujung
lidah merayu mencari kelegaan
Fajar Menyingsing
onak dan duri masih mengintari
bantal usang saksi bisu
memelas jiwa tancapkan semangat
menerkah esok yang tak kunjung tiba
Minggu, 12 April 2015
Masa Lalu
Masa Lalu
By Lino Neparasi
Kupandang hamparan sawah
semilir angin memalingkan nostalgia
gerimis menambah kenangan
padi - padi menguning melukis angan yang terombang ambing
gelap pekat menyelimuti ketika senja membayang
pelukku hangatkan suasana
seuntai kata borbardirkan rasa
tengelam ku didalam lautan batas kasih
By Lino Neparasi
Kupandang hamparan sawah
semilir angin memalingkan nostalgia
gerimis menambah kenangan
padi - padi menguning melukis angan yang terombang ambing
gelap pekat menyelimuti ketika senja membayang
pelukku hangatkan suasana
seuntai kata borbardirkan rasa
tengelam ku didalam lautan batas kasih
aku belum mengerti mengapa hujan tak mau reda
akar akar padi mulai membusuk
serpihan - serpihan gelisah mulai tampak
lidah bersungut sungut menapaki nasib
gelombang pasang bergema memangil kehampaan
goresan goresan ilalang menoreh luka
ah parsetan dengan waktu
angin hantamkan debu
tutupi luka yang menganga
keegoisan bermula dari harga diri
taburan benih benih luka kian menjadi
kepedihan rasa tak berakhir
dendam kusumat mulai terdengar
tertutup pintu kasih
meskipun dentingan sang waktu terus berjalan
namun terkadang sebaris doa terucap
ketika kesakitan menemaniku
namamu ku sebut.
akar akar padi mulai membusuk
serpihan - serpihan gelisah mulai tampak
lidah bersungut sungut menapaki nasib
gelombang pasang bergema memangil kehampaan
goresan goresan ilalang menoreh luka
ah parsetan dengan waktu
angin hantamkan debu
tutupi luka yang menganga
keegoisan bermula dari harga diri
taburan benih benih luka kian menjadi
kepedihan rasa tak berakhir
dendam kusumat mulai terdengar
tertutup pintu kasih
meskipun dentingan sang waktu terus berjalan
namun terkadang sebaris doa terucap
ketika kesakitan menemaniku
namamu ku sebut.
Sabtu, 11 April 2015
Diantara benci dan rindu
Diantara benci dan rindu
by Lino Neparasi
Detak jantung berbalap dengan waktu
bayangmu berlabuh dalam raga
coba kutepis serpihan luka
tapi sayatan begitu membekas
desahan kecil bergumam memangilmu
tak peduli berapa perih luka itu
yang ada hanya kenikmatan ketika bersama
Angin malam mengoda
semilirnya menyisahkan kedinginan
diujung sepi kuharap pelukmu hangatkan
derai tawamu terbesit diangan
bayangmu tak mau beranjak
pekikku pecahkan keheningan
Rinai hujan kembali datang
seakan memahami rasa ini
anganku terapung diantara benci dan rindu
disudut mata mulai berair
ku maki diriku
yang tak berkutik membunuh sepi
by Lino Neparasi
Detak jantung berbalap dengan waktu
bayangmu berlabuh dalam raga
coba kutepis serpihan luka
tapi sayatan begitu membekas
desahan kecil bergumam memangilmu
tak peduli berapa perih luka itu
yang ada hanya kenikmatan ketika bersama
Angin malam mengoda
semilirnya menyisahkan kedinginan
diujung sepi kuharap pelukmu hangatkan
derai tawamu terbesit diangan
bayangmu tak mau beranjak
pekikku pecahkan keheningan
Rinai hujan kembali datang
seakan memahami rasa ini
anganku terapung diantara benci dan rindu
disudut mata mulai berair
ku maki diriku
yang tak berkutik membunuh sepi
Kamis, 09 April 2015
Sebuah Perjalanan
Sebuah Perjalanan
By Lino Neparasi
Kurangkai setiap perjalanan
dengan sulaman suka dan duka
terkadang begitu berwarna
terkadang hitam pekat
setitik noda menghiasi
waktu coba pudarkan
ingin kugengam warna itu
ingin kupupuskan semuanya.
By Lino Neparasi
Kurangkai setiap perjalanan
dengan sulaman suka dan duka
terkadang begitu berwarna
terkadang hitam pekat
setitik noda menghiasi
waktu coba pudarkan
ingin kugengam warna itu
ingin kupupuskan semuanya.
Rabu, 08 April 2015
Janji
Janji
By : Lino Neparasi
Bayar itu wajib
tak bayar berujung ke tabib
siapa mampu melawan?
taat jiwamu aman
hati kecil berbisik
kemerdekaan seakan memberontak
Bentrok!
siapa mampu melawan?
taat jiwamu aman
hati kecil berbisik
kemerdekaan seakan memberontak
Bentrok!
Langganan:
Postingan (Atom)