Celoteh Hati
Ijinkan aku berseru pada hujan
menuangkan gurat garit hitam putih
yang merambat menghimpit ujung jalan
Menegadah menebar letih yang mulai marasuk
Seruan ku menjinakan rasa yang hampir mati
Aku ingin berdiri menantang badai
Parsetan dengan arus dan gelombang
Jinakan! Jinakan! Itu seruanku.
menuangkan gurat garit hitam putih
yang merambat menghimpit ujung jalan
Menegadah menebar letih yang mulai marasuk
Seruan ku menjinakan rasa yang hampir mati
Aku ingin berdiri menantang badai
Parsetan dengan arus dan gelombang
Jinakan! Jinakan! Itu seruanku.
Kemarin bibirmu menitikan tetesan madu
Merajut, merayu, gersangnya ladangku
Terlena ku mengecap
Langit mulutmu selicin belut sawah
Menebar harap, porak-poranda kemahku
Pijakku terkoyak kehilangan arah.
Merajut, merayu, gersangnya ladangku
Terlena ku mengecap
Langit mulutmu selicin belut sawah
Menebar harap, porak-poranda kemahku
Pijakku terkoyak kehilangan arah.
Aku mulai menyemi padi
Gairahku tersapu ketika hujan menghilang
muara asa melukis warna kian pupus
padi kerinduanku dalam baris imajinasiku
liukan angin mengisahkan seribu harap
ketika senja mulai memangil malam
ketika seru mulai diabaikan angin
Natalino Neparasi
Celuk, 28 Februari
Gairahku tersapu ketika hujan menghilang
muara asa melukis warna kian pupus
padi kerinduanku dalam baris imajinasiku
liukan angin mengisahkan seribu harap
ketika senja mulai memangil malam
ketika seru mulai diabaikan angin
Natalino Neparasi
Celuk, 28 Februari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar