Kamis, 16 Juli 2015

Kerinduan

Kerinduan
By Lino Neparasi

Tanjung teluk pembatas mata memandang
Doa, mimpi dan telpon adalah penghubung
Dimana tepi rindu akan berlabuh
Hadirmu mengisih kosongnya jalah
Yang kutebarkan di kala mentari berubah merah

Tanpa batas ribuan sajak tercipta
Sentuan alam hinggapi jejak luka
Menorehkan tanda ritme kehidupan
Aku bernostalgia dengan terpaan angin
yang selalu mengisyaratkan hadirmu

Ku isi bejana rindu ini dengan doa
getir hatiku berbalut tawa ria
berharap fajar satukan embun dan daun
Bersua, Hangat pelukmu kunantikan
Sejuta Cerita telah kususun rapih.

Selasa, 07 Juli 2015

Diamku

Diamku
By Natalino Neparasi

Ku layangkan mata ke gunung
Kabut hitam bermesra tertiup angin
kilat menyambar dedaunan panjang
gemuruh guntur tak terbendung
menjaring rintik – rintik hujan
luapan - luapan panas terselami


Dalam riuhku tersimpan duka
rajutan bayangmu memborbardir logika
kucondongkan hati menaruh harap pada rembulan
keheningan torehkan luka kepedihan
meleburkan rasa mendaging bersama angan
seciut sukma berbisik lirih
percuma…

Senyuman tak mampu bungkam tatapan mata
letupan – letupan kecil penghias hening
lautan kepedihan nurani meledak
lahar – lahar rasa menjalar
mengintari dinding-dinding ilusi
lidah mengerutu pasrah.

Jumat, 03 Juli 2015

Harap dibatas Senja

Harap dibatas Senja
Oleh : Natalino Neparasi
Redup tak terselami seberkas cahaya
pangkuan pijakan enggan memelas asa
perlahan kemilau tersapu dari mata
hanya air yang tersisa di ujung harap
impian menetes lembut dari mata
mencari naungan dari aungan srigala


Bayang – bayang di batas senja
kabut hitam menari membungkus mentari
bisikan harap pada angin malam
pinjamkan seberkas cahaya pada rembulan
bintang ukir sejuta kenangan
mata menanam benih – benih harapan

Ku songsong terang dengan balutan angin
tebarkan sejuta riah ke seluruh penjuru
lintasi terjal di persimpangan lembah
meraih angan ditengah pengungsian
membidik langit membunuh sangsi
meskipun kadang tersesat diantara dua jalan