Waktu
Natalino Neparasi
Natalino Neparasi
Hujan perlahan mengais debu-debu jalanan
Membenamnya bahkan mengusurnya sudut-sudut tepi
Musim berdesik-desik menguak kembali pahatan-pahatan yang bernama hitam
Ketika bongkahan-bongkahan warna itu tercecer menuju titik cahaya
Dan lintasan mata menjalar mengintai barisan warna
Siapa yang mengukir kerikil dan menyayat catatan malam
Perhelatan kemenangan semakin tampak di ujung jalan
Tembangkan senadung nada ria pemecah kesunyian
Membenamnya bahkan mengusurnya sudut-sudut tepi
Musim berdesik-desik menguak kembali pahatan-pahatan yang bernama hitam
Ketika bongkahan-bongkahan warna itu tercecer menuju titik cahaya
Dan lintasan mata menjalar mengintai barisan warna
Siapa yang mengukir kerikil dan menyayat catatan malam
Perhelatan kemenangan semakin tampak di ujung jalan
Tembangkan senadung nada ria pemecah kesunyian
Berjalanan dan terus berjalan melintasi samudra
meluncur mengubah haluan menuju lingkaran mata angin
Tak mau mengiba, biarkan dibilang congkak
Kemarin mereka mengepung dan seolah-olah menerkam
Aungannya bahkan meredam bara api yang hanya secuil
Tapi, tak bisa dikoyaknya keteguhan
Yang kulafaskan dalam lingkar sepiku
Aku tak menapik nyaliku menciut
Namun kususun kembali gumpalan-gumpalan keberanian
Dan ku pekikkan kebebasan
meluncur mengubah haluan menuju lingkaran mata angin
Tak mau mengiba, biarkan dibilang congkak
Kemarin mereka mengepung dan seolah-olah menerkam
Aungannya bahkan meredam bara api yang hanya secuil
Tapi, tak bisa dikoyaknya keteguhan
Yang kulafaskan dalam lingkar sepiku
Aku tak menapik nyaliku menciut
Namun kususun kembali gumpalan-gumpalan keberanian
Dan ku pekikkan kebebasan