Kamis, 31 Desember 2015

Penghujung Tahun

Penghujung Tahun
Neparasi Natalino
Aku berlayar setahun lamanya
Mengintari samudera
Diombang-abingkanya kapalku
Terkoyak layarku tak kuasa menahan hantaman angin
Dipukulnya kemudiku hinga kehilangan arah
Terdampar ku di pesisir
Berlabuh saat sang surya menutup mata

Terbebas aku dari cengkraman badai
Dari amukan angin delapan penjuru
Kusulut api penghangat dada
Berkobar getir hati memahat pelangi
Yang mulai luntur termakan waktu

Dulu setangkai berbuah tiga delima
Sekarang kutukan menerjang
Disihirnya akar delima menjadikan tangkai kering
Terlepas bagai bola tak beriringan

Dilembah ini ku bangun pondok
Menganga pintu memanggil deru ombak
Asinya air laut penyedap rasa
Bergulat pada hausnya merangkai mimpi
Aku ingin besok segera terbangun
Memahat mimpi yang pernah kutulis

Selasa, 29 Desember 2015

Dia Datang

Dia Datang
By Natalino Neparasi
Seringkali aku lupakan pengorbanan yang Dia berikan
Kuterlena dalam bayang-bayang belukar yang mengelilingi
semerah kismis kutoreh pada jejak-jejak perjalanan
Kesuir angin dan hantaman derai hujan tak mampu pudarkan
Dibaringkannya aku pada pohon ketapang yang rindang
Kutemukan seraut bayang ketika dedaunan mulai berguguran
Muara waktu berdenting tanda waktu tlah tiba
Baliklah jika Merah flamboyang mulai menghias jalananan
Tercabik-cabik perih menjalar disetiap helaan nafas.
Ini tahun keberapa?
Ini janji keberapa?
Biarlah aku menjelma menjadi angin
Kusebarkan, kuhampiri, kuisi, setiap dinding-dinding kosong
Yang mengharapkan kedatanganku.
Ah Dia datang! Kiri-kanan semuanya bernuansa mewah
Glorya, Wangi-wangian kue mencumbu
Kutakarkan semua rasa menjadi padu
Menyongsong Sang Juruslamat
Robohkanlah gubuk kekwatiran dan kegelisan
Gantikan dengan menara kemenangan dan kedamaian.

Kamis, 03 Desember 2015

Puisi Desember

Desember Hitam Putih
By Natalino
Ketika Desember menyapa
memori seakan terus mengintai pergerakan
Ku coba menghalau tapi ditancapnya begitu mendalam
Aku terkapar setengah mati mengiba
Belum juga hujan datang menyalami
Tapi sembab mata dipembaringan selalu menemani
Aku pecundang, tak mampu meninju langit.
Padahal kemarin sayap sudah kurangkai


Di jalan-jalan gelap telah kuserukan janji janji
Kepada para bedeba yang setiap saat ingin menebas aku
Aku tergelincir ketika hujan desember datang mengusik
Bentengku terporak poranda ketika angin barat mulai mengamuk
Peperangan kecil melumpukan ego dan membuatku terkapar
Sendiri menyelami setiap tindak tanduk jejak perantau

Dekapan, hangat, sentuhan, seakan terus mengintai dinding ingatanku
Bungga flamboyan mengepung kelana imajiku
Hitam putih mengusik logikaku
Ku coba bentengi diri dengan kemah ego yang kuat.
Persedian makanan di kemah begitu lengkap
Tapi Aku tetap saja seperti singa kelaparan siap menyergap
Aku bersikukuh pada bulan untuk meminjam cahaya
Nantikalah aku, Teguhkanlah aku. kuatkanlah aku
Pada janji janji yang pernah terucap
Aku berseru pada Tuhan
Terseret dalam ruang dan waktu
Aku ingin pulang.