Minggu, 26 April 2015
Salah Bicara Akibatnya Fatal
Hari yang menyenangkan ketika dering telpons Saya berbunyi. Cepat - cepat saya sambar hp digengaman teman yang dari tadi bermain Get rich. No baru? siapa gerangan dengan gaya anak alay tangan mengeser layar answer " Halo" kata saya dengan nada yang datar. Tak ada jawaban "Halo" Halo!!!!! . "ia Halo papa ada buat apa?" Omg suara itu . Cepat - cepat saya turunkan nada bicara "bagaimana kabar?" saya mulai pembicaraan. "Sonde usah pura - pura lupa. Bapa marah B ya?" tanyanya dengan suara khasnya. saya terdiam "Bukannya begitu B. Lino sebenarnya sangat merindu tapi lino lagi sibuk ahir ahir ini. "Oh mungkin sekarang B sonde begitu penting lai andia lino su lupa" katanya. What? "Ah maksud lino. Lino pikir B sibuk jadi lino takut ganggu " cepat - cepat aku memperbaiki jawaban pertama takutnya tersingung. "Ya sudahlah kalau lino sibuk B sudah menggangu lain waktu nanti bai telpon lagi." "Sonde - sonde lino sonde sibuk" belum selesai saya mengucapkan kata itu terdengar bunyi tut... tutt. tuttt. saya mencoba menghubunggi lagi tapi telponya tidak diangkat- angkat juga.
Janji dan waktu
Janji dan waktu
Kulayangkan mata menyisir pandang
membelai harap diujung penantian
balutan kasih mulai usang
menelusuri jeruji jeruji perjanjian
By Lino Neparasi
Kulayangkan mata menyisir pandang
membelai harap diujung penantian
balutan kasih mulai usang
menelusuri jeruji jeruji perjanjian
By Lino Neparasi
Selasa, 21 April 2015
Bingung
Bingung
Tanpa Rindu
Tanpa benci
sisahkan Puing puing kenangan
mungkin sakit
Mungkin Bahagia
entahlah
senyum ini masih terbungkus duka
tersesat separuh raga
memangil kicauan burung camar
By Lino Neparasi
Tanpa Rindu
Tanpa benci
sisahkan Puing puing kenangan
mungkin sakit
Mungkin Bahagia
entahlah
senyum ini masih terbungkus duka
tersesat separuh raga
memangil kicauan burung camar
By Lino Neparasi
Sabtu, 18 April 2015
Dilema
Dilema
Kujejaki Pulau surga
dengan sejuta harapan
gelora dunia bertaburan
kunikmati nafsu dalam gemerlap kota
ini, itu kuraih.
semakin erat kudekap
tapi senyum itu justru menjauh
elok mempesona menari diatas bayang2 semu
ya ini jalanku,
semua membisu
semua hampa,entah mengapa
kering, tandus itu justru kurindu
pingin kudekap, tapi situasi bermain cemburu
memborbardir seciut sukma
perlahan mematahkan sum sum ingatan
By Lino Neparasi
Kujejaki Pulau surga
dengan sejuta harapan
gelora dunia bertaburan
kunikmati nafsu dalam gemerlap kota
ini, itu kuraih.
semakin erat kudekap
tapi senyum itu justru menjauh
elok mempesona menari diatas bayang2 semu
ya ini jalanku,
semua membisu
semua hampa,entah mengapa
kering, tandus itu justru kurindu
pingin kudekap, tapi situasi bermain cemburu
memborbardir seciut sukma
perlahan mematahkan sum sum ingatan
By Lino Neparasi
Menjelang Pagi
Menjelang Pagi
Penghujung malam penuh nestapa
memory berjingkat dalam alunan nada
mengais dingin kian menggigit
menutup separuh cahaya
mengintari dinding lamunan
kisah ini
Ibarat permata di mulut babi
indah tiada berarti
seakan tak bermakna dilewati
Bulan Tunjukan arti
jangan biarkan prasangka kian membunuh
ukirkan sejuta bintang timur
mengetuk cinta yang kian pudar
kembali dalam nyata tanpa goresan
By Lino Neparasi
memory berjingkat dalam alunan nada
mengais dingin kian menggigit
menutup separuh cahaya
mengintari dinding lamunan
kisah ini
Ibarat permata di mulut babi
indah tiada berarti
seakan tak bermakna dilewati
Bulan Tunjukan arti
jangan biarkan prasangka kian membunuh
ukirkan sejuta bintang timur
mengetuk cinta yang kian pudar
kembali dalam nyata tanpa goresan
By Lino Neparasi
Jumat, 17 April 2015
Puisi " Aku Dan Kerinduan "
By Lino Neparasi
Tanjung di ujung mata
gelisah mengusik ego
raga berserah tapi tak pasrah
karang mulai terkikis pukulan ombak
untaian kata tak dapat terangkai indah
goresan tinta tak mampu lukiskan semua
ada apa Gerangan?
Puisi " Bimbang "
By Lino Neparasi
Sayup - sayup kasih masih terasa
Ku hirup rasa tanpa mendua
jejak kecil perlahan tersapu
membunuh imajinasi masa lalu
setengah sadar kupahat harap
hadirkan janji yang telah berlalu
Rasa itu penyakit mematikan
Sayup - sayup kasih masih terasa
Ku hirup rasa tanpa mendua
jejak kecil perlahan tersapu
membunuh imajinasi masa lalu
setengah sadar kupahat harap
hadirkan janji yang telah berlalu
Rasa itu penyakit mematikan
Puisi "Damai"
Damai
Merah, Hijauh, Hitam Menjamur menjadi satu
mata- mata memandang mulut- mulut mengerutu
antara benci, jijik dan muak menyatu
virus - virusmu perlahan -lahan mematikanku
Merah, Hijauh, Hitam Menjamur menjadi satu
mata- mata memandang mulut- mulut mengerutu
antara benci, jijik dan muak menyatu
virus - virusmu perlahan -lahan mematikanku
Rabu, 15 April 2015
Sahabat
Sahabat
By Lino Neparas
Termenungku meratapi perjalanan ini
rentangan sang waktu sebagai penguji
seperti menajamkan baja dalam bara api
kau tulis seribu syair ceria
meskipun terkadang pekat menghantui
Sahabat Perselisihan itu biasa
ucap bibir terkadang mengores luka
namun materai maaf selalu ada
bersama kita mengukir janji
By Lino Neparas
Termenungku meratapi perjalanan ini
rentangan sang waktu sebagai penguji
seperti menajamkan baja dalam bara api
kau tulis seribu syair ceria
meskipun terkadang pekat menghantui
Sahabat Perselisihan itu biasa
ucap bibir terkadang mengores luka
namun materai maaf selalu ada
bersama kita mengukir janji
Selasa, 14 April 2015
Canduku
Canduku
By Lino Neparasi
Sepotong Perjalanan tak bertapak
pekik - pekik kecil pengias jejak
terlena ku memandang bianglala
kau ukir penuh warna
ragaku terbuai dalam alunan nada
Hujan menari bersama angan
jeritan jeritan menyayat kalbu
bias bias air penyapu duka
dahaga rindu mengigil memangil
taburan madu menghiasi
senja membayang diantara bayangmu
canduku berkesumat
tanpamu aku hampa
riuhku penyulam duka
sampai kapan?
mungkinkah mentari kan berhenti bersinar?
By Lino Neparasi
Sepotong Perjalanan tak bertapak
pekik - pekik kecil pengias jejak
terlena ku memandang bianglala
kau ukir penuh warna
ragaku terbuai dalam alunan nada
Hujan menari bersama angan
jeritan jeritan menyayat kalbu
bias bias air penyapu duka
dahaga rindu mengigil memangil
taburan madu menghiasi
senja membayang diantara bayangmu
canduku berkesumat
tanpamu aku hampa
riuhku penyulam duka
sampai kapan?
mungkinkah mentari kan berhenti bersinar?
Senin, 13 April 2015
Rintihan Hati
Rintihan Hati
By Lino Neparasi
Mentari pudar tertelan malam
Jiwa mereka - reka
melukis bayang yang mulai terkikis
membelenggu sebaris keyakinan
remuk menjadi debu tak berarti
tertiup bersama mimpi
By Lino Neparasi
Mentari pudar tertelan malam
Jiwa mereka - reka
melukis bayang yang mulai terkikis
membelenggu sebaris keyakinan
remuk menjadi debu tak berarti
tertiup bersama mimpi
Mentari pudar tertelan malam
rintihan kecil terdengar
wajah lesuh penuh luka
sekejab mata sembab di pembaringan
peluh dan kesah tak berujung
lidah merayu mencari kelegaan
Fajar Menyingsing
onak dan duri masih mengintari
bantal usang saksi bisu
memelas jiwa tancapkan semangat
menerkah esok yang tak kunjung tiba
rintihan kecil terdengar
wajah lesuh penuh luka
sekejab mata sembab di pembaringan
peluh dan kesah tak berujung
lidah merayu mencari kelegaan
Fajar Menyingsing
onak dan duri masih mengintari
bantal usang saksi bisu
memelas jiwa tancapkan semangat
menerkah esok yang tak kunjung tiba
Minggu, 12 April 2015
Masa Lalu
Masa Lalu
By Lino Neparasi
Kupandang hamparan sawah
semilir angin memalingkan nostalgia
gerimis menambah kenangan
padi - padi menguning melukis angan yang terombang ambing
gelap pekat menyelimuti ketika senja membayang
pelukku hangatkan suasana
seuntai kata borbardirkan rasa
tengelam ku didalam lautan batas kasih
By Lino Neparasi
Kupandang hamparan sawah
semilir angin memalingkan nostalgia
gerimis menambah kenangan
padi - padi menguning melukis angan yang terombang ambing
gelap pekat menyelimuti ketika senja membayang
pelukku hangatkan suasana
seuntai kata borbardirkan rasa
tengelam ku didalam lautan batas kasih
aku belum mengerti mengapa hujan tak mau reda
akar akar padi mulai membusuk
serpihan - serpihan gelisah mulai tampak
lidah bersungut sungut menapaki nasib
gelombang pasang bergema memangil kehampaan
goresan goresan ilalang menoreh luka
ah parsetan dengan waktu
angin hantamkan debu
tutupi luka yang menganga
keegoisan bermula dari harga diri
taburan benih benih luka kian menjadi
kepedihan rasa tak berakhir
dendam kusumat mulai terdengar
tertutup pintu kasih
meskipun dentingan sang waktu terus berjalan
namun terkadang sebaris doa terucap
ketika kesakitan menemaniku
namamu ku sebut.
akar akar padi mulai membusuk
serpihan - serpihan gelisah mulai tampak
lidah bersungut sungut menapaki nasib
gelombang pasang bergema memangil kehampaan
goresan goresan ilalang menoreh luka
ah parsetan dengan waktu
angin hantamkan debu
tutupi luka yang menganga
keegoisan bermula dari harga diri
taburan benih benih luka kian menjadi
kepedihan rasa tak berakhir
dendam kusumat mulai terdengar
tertutup pintu kasih
meskipun dentingan sang waktu terus berjalan
namun terkadang sebaris doa terucap
ketika kesakitan menemaniku
namamu ku sebut.
Sabtu, 11 April 2015
Diantara benci dan rindu
Diantara benci dan rindu
by Lino Neparasi
Detak jantung berbalap dengan waktu
bayangmu berlabuh dalam raga
coba kutepis serpihan luka
tapi sayatan begitu membekas
desahan kecil bergumam memangilmu
tak peduli berapa perih luka itu
yang ada hanya kenikmatan ketika bersama
Angin malam mengoda
semilirnya menyisahkan kedinginan
diujung sepi kuharap pelukmu hangatkan
derai tawamu terbesit diangan
bayangmu tak mau beranjak
pekikku pecahkan keheningan
Rinai hujan kembali datang
seakan memahami rasa ini
anganku terapung diantara benci dan rindu
disudut mata mulai berair
ku maki diriku
yang tak berkutik membunuh sepi
by Lino Neparasi
Detak jantung berbalap dengan waktu
bayangmu berlabuh dalam raga
coba kutepis serpihan luka
tapi sayatan begitu membekas
desahan kecil bergumam memangilmu
tak peduli berapa perih luka itu
yang ada hanya kenikmatan ketika bersama
Angin malam mengoda
semilirnya menyisahkan kedinginan
diujung sepi kuharap pelukmu hangatkan
derai tawamu terbesit diangan
bayangmu tak mau beranjak
pekikku pecahkan keheningan
Rinai hujan kembali datang
seakan memahami rasa ini
anganku terapung diantara benci dan rindu
disudut mata mulai berair
ku maki diriku
yang tak berkutik membunuh sepi
Kamis, 09 April 2015
Sebuah Perjalanan
Sebuah Perjalanan
By Lino Neparasi
Kurangkai setiap perjalanan
dengan sulaman suka dan duka
terkadang begitu berwarna
terkadang hitam pekat
setitik noda menghiasi
waktu coba pudarkan
ingin kugengam warna itu
ingin kupupuskan semuanya.
By Lino Neparasi
Kurangkai setiap perjalanan
dengan sulaman suka dan duka
terkadang begitu berwarna
terkadang hitam pekat
setitik noda menghiasi
waktu coba pudarkan
ingin kugengam warna itu
ingin kupupuskan semuanya.
Rabu, 08 April 2015
Janji
Janji
By : Lino Neparasi
Bayar itu wajib
tak bayar berujung ke tabib
siapa mampu melawan?
taat jiwamu aman
hati kecil berbisik
kemerdekaan seakan memberontak
Bentrok!
siapa mampu melawan?
taat jiwamu aman
hati kecil berbisik
kemerdekaan seakan memberontak
Bentrok!
Langganan:
Postingan (Atom)