Syair Pengelana
Natalino
Angin
menyusup sendi-sendi peraba
Terpaannya
mengulik rasa yang kian mendaging
Denting
piano, untaian nada besimbah tautan emosi
Mengiring
jalan pengelana
Mata
berpacu dengan waktu menikmati balutan endek pada liukan tubuh penari
Menghipnotis
separuh rasa
Perlahan
memborbardir jatung pertahananku
Ingin
kubunuh rasa dengan seteguk tuak, tapi aku tak terbiasa
Ingin
Kuulang duduk bersisian di samping warung
Serombotan
sebagai menu makan soreku
Ketika
matamu berpendar menghipnotis sukmaku
Dan
serombotan memalingkan rasa untuk kembali bersua
Ingin
kuintai setiap denyut nadimu
Bersamaan
dengan malam yang kian lalu-lalang
Dalam
seruan baris-baris doaku
Kusebut
namamu
Rasaku
memburu
Kemana ku
bermuara?
Rasa ini
kian melilit rongga dada
Sesak
nafas mendesah, ah….. hanya mimpi
Kemana
kubuang bayang yang tak mau menyusut?
Ketika
senja membayang di pantai Kusamba
Anak
nelayan menyerukan untaian lagu rindu
Aku mulai
mengigil memanggil namamu
kuukir
wajah yang kian mengrogoti pada pasir ini
Namun
balutan angin dan terpaan ombak menghapusnya
Kuredam
kembali asah
Kita
berbeda, aku tandus dan kering kamu seni dan budaya
Mungkinkah
kita bisa menyatu?
