Jeritan-Jeritan Ucapan Syukur
slalu kuhebuskan benih-benih syukur yang tertimbun dalam dada
terkadang Angin timur, barat, utara dan selatan mengoyakanku
merobek asah menaruh harap pada pada dunia
Jeritan-jeritan terkadang membuatku melonglong melupakanMu
Namun Engkau tak pernah berpaling dariku
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak agar aku tetap berkilau di tengah-tengah dunia
Kau redam dan jawab dengan cinta kasihMu yang tiada duanya
di sudut kota ini kucoba ukir pelanggi dengan sisa-sisa hujan kemarin
Tapi entahlah cakrawala seakan tak mengijinkan
mulut manusia lalu lalang mencemoohku
aku terdesak menghapus angan di batas senja
Namun Gada dan tongkatMu mengangkatku jauh lebih indah dari pelanggi
Kupasrahkan raga dan cita dalam setiap untain doaku
Mulutku, mulut pembual terkadang mengores hatiMU
namun cinta KasihMu seperti gelombang samudra yang tiada hentinya mengarunggi lautan
Ingin kuarunggi lautan itu dengan nahkoda sang Juruselamat.
