Jumat, 17 April 2015

Puisi "Damai"

 Damai

Merah, Hijauh, Hitam Menjamur menjadi satu
mata- mata memandang mulut- mulut mengerutu
antara benci, jijik dan muak menyatu
virus - virusmu perlahan -lahan mematikanku


Aku berkelana pada negeri penuh sinetron
semua pandai berakting kasar ataupun sopan
hanya aku tak mampu main peran
pedang kata menusuk dengan spontan
menyisahkan duri - duri dan bilurnya yang tak tertimbun

Perkara hati tak terobati
senyum kecil mengugah hati
perlahan meruntuhkan kerasnya batu karang
untain kasih berbisik lirih
satu kata terucap " Damai".
  


By Lino Neparasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar