Damai
Merah, Hijauh, Hitam Menjamur menjadi satu
mata- mata memandang mulut- mulut mengerutu
antara benci, jijik dan muak menyatu
virus - virusmu perlahan -lahan mematikanku
Aku berkelana pada negeri penuh sinetron
semua pandai berakting kasar ataupun sopan
hanya aku tak mampu main peran
pedang kata menusuk dengan spontan
menyisahkan duri - duri dan bilurnya yang tak tertimbun
Perkara hati tak terobati
senyum kecil mengugah hati
perlahan meruntuhkan kerasnya batu karang
untain kasih berbisik lirih
satu kata terucap " Damai".
By Lino Neparasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar